Halaman

Kamis, 11 November 2010

Ritual Tolak Bala Merapi

Awalnya, aku agak sedikit lega karena tidak terdengar desas desus ritual-ritual mistik semenjak amuk merapi beberapa minggu yang lalu.. Sebab, teringat oleh ku disaat aku masih menjadi salah satu penghuni tanah paling damai di Indonesia ini pernah pula terjadi erupsi merapi di tahun 2006 (sebelum gempa besar itu). Suatu malam, sepulang dari pengajian rutin yang biasa aku datangi, aku melihat ada yang berbeda pada setiap rumah disana. Ada tambahan lampu remang dan sesuatu yang bergantung di dekatnya di depan pintu setiap rumah. Tidak jelas pada pandangan pertama, kucoba lihat di pagi hari setelah semua sinar matahari sempurna menghapus jejak-jejak bayangan malam.
Aku lihat dengan jelas, daun serai, bunga dan entah apa lagi yang semuanya diikat dengan tali dan digantungkan di depan pintu. Biasa saja pikirku, ini mungkin budaya jojga yang belum ku ketahui. Sepulang dari kampus, aku seperti biasa nongkrong bersama warga kampung dan teman-temanku. Disanalah jelas semuanya. Memang, aku yang mulai bertanya. Tadinya, jika itu memang budaya mereka, maka aku sebagai pendatang bermaksud ikut menghormati dengan cara menambahkan pernik itu di depan pintu rumah kontrakan kami. Setelah perbincangan yang cukup lama, akhirnya mengertilah kami semua, bahwa itu adalah titah dari Sultan atas rekomendasi dari mbah Marijan agar merapi tidak mengamuk lebih parah. Suatu bentuk simbol tolak bala. Kemudian ku tanyakan, kepada siapa tolak bala ini ditujukan? Mereka jawab, 'kepada penguasa merapi'.
'Ow, gusti Allah maksudnya?', sahutku
'Bukan, tapi kepada penguasa merapi', jawab tetua yang juga ikut nongkrong bersama kami. Sambil membenarkan sarungnya, dia bangkit dan mulai memain-mainkan merpati koleksinya. 
'Adakah penguasa merapi selain Allah?', aku bergumam...
Eeh, setelah beberapa hari, terjadi gempa besar yang ternyata bukan berasal dari merapi, tapi justru dari laut selatan...
'Waah, kita kurang memberi sesajen ke Nyi Roro Kidul', kata mereka.
ckck, mistik disini kental sekali pikirku...
Tidak perlu sekolah tinggi-tinggi cuma untuk mengetahui bahwa jelas semua itu bukanlah cara tolak bala yang benar.
Nah, ketika aku tidak mendengar ada ritual semacam ini setelah amuk merapi tahun ini, aku pikir yaah, pikiran mereka mungkin sudah berkembang, syukur alhamdulillah.
Tapi ketika membaca artikel ini, kembali aku menyayangkan...

Paguyuban Kebatinan Tri Tunggal (PKTT) Yogyakarta menggelar ritual tolak bala pada Senin (8/11/2010) malam. Ritual tersebut dimaksudkan agar warga Yogyakarta dan sekitarnya terhidar dari mara bahaya akibat letusan Merapi.
Ritual yang dipusatkan di sekitar kawasan Tugu ini diawali dengan mengarak kerbau bule. Mengambil start di SMPN 6 Terban Yogyakarta, iringan-iringan puluhan anggota PKTT menyusuri Jl Sudirman, sebelum akhirnya memulai berbagai acara ritual di Perempatan Jl Sudirman-Mangkubumi-AM Sangaji.
Acara dimulai dengan tari Bedoyo yang dipentaskan dengan elok oleh sembilan penari. Alunan gamelan serta semerbak harum dupa membuat semua yang ada di tempat tersebut larut dalam suasana.
Puncak acara diisi dengan pemotongan seekor Kerbau Bule dan sembilan ayam jago Jurik Kuning sebagai sesaji. Selain itu ada juga getuk lindri dengan bentuk boneka manusia yang berjumlah 99.
Sombo, Anggota PKTT menuturkan, sesaji merupakan simbol manusia dan alam sekitarnya. ”Ritual ini diharapkan dapat terjadi harmonisasi antara manusia dan alam,” katanya.
Kepala kerbau dan sembilan jago Jurik Kuning, rencananya akan dibawa ke lereng Merapi untuk ditanam di sana malam ini juga. "Daging badannya akan dibagikan pada warga," kata Wahadi, anggota lain dari Seyegan. (Dikutip dari kompas.com)

Catatan ini terutama ditujukan pada teman-temanku di Jogja, 
kalian orang yang berpendidikan, sikapilah bencana dengan bijak.
terutama teman-teman di daerah Cokrokusuman, Jetis, Code dan sekitarnya, perjuangan ini masih panjang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

sopan lebih baik bukan berarti ga sopan mungkin tidak baik tapi yang pasti buruknya... (bingung kan??) :P