Laman

Kamis, 11 November 2010

Legenda Danau Dendam Tak Sudah (Cerita Rakyat Bengkulu)

Alkisah pada jaman dahulu kala disebuah kampung hiduplah seorang gadis yang cantik jelita, namanya Esi Marliani.  Dia menjalin kasih dengan seorang pria yang tampan nan gagah perkasa kira-kira bernama Buyung. Mereka memadu kasih begitu indahnya. Sekali waktu mereka bernyanyi sambil menari dibawah pohon cempedak. Mereka saling kejar-kejaran mengelilingi pohon cempedak dan kadang mereka berguling-guling direrumputan atau mereka berayun diantara akar-akar pohon beringin. Sampai-sampai rusa, tupai dan biawak iri melihat kemesraan mereka berdua . ohhh, dunia serasa milik mereka berdua saja...

Tapi sayang cinta mereka tak direstui oleh orang tua sang pemuda karena sang pemuda sudah dijodohkan dengan gadis dari kampung tetangga anak gadis kepala suku, si upik Leha, yang memiliki kecantikan yang luar biasa. Betapa kecewanya hati si gadis Esi karena ternyata si buyung juga mencintai anak gadis pak lurah dari desa tetangga itu.

Pada waktu musim kawin, Si buyung dan anak gadis pak lurah dari desa tetangga melangsungkan pernikahannya. Pada hari itu mereka diarak keliling kampung-kampung. Sementara si Esi begitu terluka hatinya. Dia menangis tiadalah hentinya (w00aaa...woaaa..waaaaaa...hiks..hiks..woaaaaaa...).
Burung, kucing dan bebek angsapun turut menangis karenanya. Dan dia begitu dendam dengan si buyung.

Ketika kedua mempelai di arak melewati kampungnya terjadilah keanehan yang diluar akal sehat manusia, linangan air mata Esi begitu derasnya hingga perlahan membanjiri kampungnya dan menenggelamkan iring-iringan arakan mempelai sehingga semua penghuni kampung dan arak-arakan mempelai tenggelam oleh linangan air mata Esi yang akhirnya menjadilah sebuah danau yang kita kenal sekarang sebagai "Danau Dendam Tak Sudah". Esipun ikut tenggelam oleh derai linangan air matanya sendiri.
Alkisah kedua mempelai kemudian berubah jadi sepasang ular tikar. mereka terkadang menampakan diri dari kejauhan danau sementara Esipun berdiri diatas kedua ular tikar tersebut, kakinya yang kiri menginjak ular yang cewek kaki yang kanan menginjak ular yang cowok.

Begitulah kisah dongeng yang sebenarnya tentang "Danau Dendam Tak Sudah". Sekian

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

sopan lebih baik bukan berarti ga sopan mungkin tidak baik tapi yang pasti buruknya... (bingung kan??) :P