Halaman

Kamis, 11 November 2010

Legenda Ular Kepala Tujuh (Kisah Rakyat Bengkulu)

Alkisah, di sebuah daerah di Bengkulu, Indonesia, berdiri sebuah kerajaan bernama Kutei Rukam yang dipimpin oleh Raja Bikau Bermano. Raja Bikau Bermano mempunyai delapan orang putra. Pada suatu waktu, Raja Bikau Bermano melangsungkan upacara perkawinan putranya yang bernama Gajah Meram dengan seorang putri dari Kerajaan Suka Negeri yang bernama Putri Jinggai. Mulanya, pelaksanaan upacara tersebut berjalan lancar. Namun, ketika Gajah Meram bersama calon istrinya sedang melakukan upacara prosesi mandi bersama di tempat pemandian Aket yang berada di tepi Danau Tes, tiba-tiba keduanya menghilang. Tidak seorang pun yang tahu ke mana hilangnya pasangan itu.

Sementara itu di istana, Raja Bikau Bermano dan permaisurinya mulai cemas, karena Gajah Meram dan calon istrinya belum juga kembali ke istana. Oleh karena khawatir terjadi sesuatu terhadap putra dan calon menantunya, sang Raja segera mengutus beberapa orang hulubalang untuk menyusul mereka. Alangkah terkejutnya para hulubalang ketika sampai di tepi danau itu tidak mendapati Gajah Meram dan calon istrinya. Setelah mencari di sekitar danau dan tidak juga menemukan mereka berdua, para hulubalang pun kembali ke istana.

“Ampun, Baginda! Kami tidak menemukan putra mahkota dan Putri Jinggai,” lapor seorang hulubalang. “Apa katamu?” tanya sang Raja panik. “Benar, Baginda! Kami sudah berusaha mencari di sekitar danau, tapi kami tidak menemukan mereka,” tambah seorang hulubalang lainnya sambil memberi hormat. “Ke mana perginya mereka?” tanya sang Raja tambah panik. Ampun, Baginda! Kami juga tidak tahu,” jawab para utusan hulubalang serentak.

Mendengar jawaban itu, Raja Bikau Bermano terdiam. Ia tampak gelisah dan cemas terhadap keadaan putra dan calon menantunya. Ia pun berdiri, lalu berjalan mondar-mandir sambil mengelus-elus jenggotnya yang sudah memutih. “Bendahara! Kumpulkan seluruh hulubalang dan keluarga istana sekarang juga!” titah sang Raja kepada bendahara. “Baik, Baginda!” jawab bendahara sambil memberi hormat.

Beberapa saat kemudian, seluruh hulubalang dan keluarga istana berkumpul di ruang sidang istana. “Wahai, rakyatku! Apakah ada di antara kalian yang mengetahui keberadaan putra dan calon menantuku?” tanya Raja Bikau Bermano. Tidak seorang pun peserta sidang yang menjawab pertanyaan itu. Suasana sidang menjadi hening. Dalam keheningan itu, tiba-tiba seorang tun tuai (orang tua) kerabat Putri Jinggai dari Kerajaan Suka Negeri yang juga hadir angkat bicara. “Hormat hamba, Baginda! Jika diizinkan, hamba ingin mengatakan sesuatu.”

“Apakah itu, Tun Tuai! Apakah kamu mengetahui keberadaan putraku dan Putri Jinggai?” tanya sang Raja penasaran. “Ampun, Baginda! Setahu hamba, putra mahkota dan Putri Jinggai diculik oleh Raja Ular yang bertahta di bawah Danau Tes,” jawab tun tuai itu sambil memberi hormat. “Raja Ular itu sangat sakti, tapi licik, kejam dan suka mengganggu manusia yang sedang mandi di Danau Tes,” tambahnya. “Benarkah yang kamu katakan itu, Tun Tuai?” tanya sang Raja. “Benar, Baginda!” jawab tun tuai itu.

“Kalau begitu, kita harus segera menyelamatkan putra dan calon menantuku. Kita tidak boleh terus larut dalam kesedihan ini,” ujar sang Raja. “Tapi bagaimana caranya, Baginda?” tanya seorang hulubalang. Sang Raja kembali terdiam. Ia mulai bingung memikirkan cara untuk membebaskan putra dan calon menantunya yang ditawan oleh Raja Ular di dasar Danau Tes.

“Ampun, Ayahanda!” sahut Gajah Merik, putra bungsu raja. “Ada apa, Putraku!” jawab sang Raja sambil melayangkan pandangannya ke arah putranya. “Izinkanlah Ananda pergi membebaskan abang dan istrinya!” pinta Gaja Merik kepada ayahandanya. Semua peserta sidang terkejut, terutama sang Raja. Ia tidak pernah mengira sebelumnya jika putranya yang baru berumur 13 tahun itu memiliki keberanian yang cukup besar.

“Apakah Ananda sanggup melawan Raja Ular itu?” tanya sang Raja. “Sanggup, Ayahanda!” jawab Gajah Merik. “Apa yang akan kamu lakukan, Putraku? Abangmu saja yang sudah dewasa tidak mampu melawan Raja Ular itu,” ujar sang Raja meragukan kemampuan putra bungsunya. “Ampun, Ayahanda! Ananda ingin bercerita kepada Ayahanda, Ibunda, dan seluruh yang hadir di sini. Sebenarnya, sejak berumur 10 tahun hampir setiap malam Ananda bermimpi didatangi oleh seorang kakek yang mengajari Ananda ilmu kesaktian,” cerita Gajah Merik.

Mendengar cerita Gajah Merik, sang Raja tersenyum. Ia kagum terhadap putra bungsunya yang sungguh rendah hati itu. Walaupun memiliki ilmu yang tinggi, ia tidak pernah memamerkannya kepada orang lain, termasuk kepada keluarganya. “Tapi, benarkah yang kamu katakan itu, Putraku?” tanya sang Raja. “Benar, Ayahanda!” jawab Gajah Merik.

“Baiklah! Besok kamu boleh pergi membebaskan abangmu dan istrinya. Tapi, dengan syarat, kamu harus pergi bertapa di Tepat Topes untuk memperoleh senjata pusaka,” ujar sang Raja. "Baik, Ayahanda!” jawab Gajah Merik.

Keesokan harinya, berangkatlah Gajah Merik ke Tepat Topes yang terletak di antara ibu kota Kerajaan Suka Negeri dan sebuah kampung baru untuk bertapa. Selama tujuh hari tujuh malam, Gajah Merik bertapa dengan penuh konsentrasi, tidak makan dan tidak minum. Usai melaksanakan tapanya, Gajah Merik pun memperoleh pusaka berupa sebilah keris dan sehelai selendang. Keris pusaka itu mampu membuat jalan di dalam air sehingga dapat dilewati tanpa harus menyelam. Sementara selendang itu dapat berubah wujud menjadi pedang.

Setelah itu, Gajah Merik kembali ke istana dengan membawa kedua pusaka itu. Namun, ketika sampai di kampung Telang Macang, ia melihat beberapa prajurit istana sedang menjaga perbatasan Kerajaan Kutei Rukam dan Suka Negeri. Oleh karena tidak mau terlihat oleh prajurit, Gajah Merik langsung terjun ke dalam Sungai Air Ketahun menuju Danau Tes sambil memegang keris pusakanya. Ia heran karena seakan-seakan berjalan di daratan dan sedikit pun tidak tersentuh air.

Semula Gajah Merik berniat kembali ke istana, namun ketika sampai di Danau Tes, ia berubah pikiran untuk segera mencari si Raja Ular. Gajah Merik pun menyelam hingga ke dasar danau. Tidak berapa lama, ia pun menemukan tempat persembunyian Raja Ular itu. Ia melihat sebuah gapura di depan mulut gua yang paling besar. Tanpa berpikir panjang, ia menuju ke mulut gua itu. Namun, baru akan memasuki mulut gua, tiba-tiba ia dihadang oleh dua ekor ular besar.

“Hai, manusia! Kamu siapa? Berani sekali kamu masuk ke sini!” ancam salah satu dari ular itu. “Saya adalah Gajah Merik hendak membebaskan abangku,” jawab Gajah Merik dengan nada menantang. “Kamu tidak boleh masuk!” cegat ular itu. Oleh karena Gajah Merik tidak mau kalah, maka terjadilah perdebatan sengit, dan perkelahian pun tidak dapat dihindari. Pada awalnya, kedua ular itu mampu melakukan perlawanan, namun beberapa saat kemudian mereka dapat dikalahkan oleh Gajah Merik.

Setelah itu, Gajah Merik terus menyusuri lorong gua hingga masuk ke dalam. Setiap melewati pintu, ia selalu dihadang oleh dua ekor ular besar. Namun, Gajah Merik selalu menang dalam perkelahian. Ketika akan melewati pintu ketujuh, tiba-tiba Gajah Merik mendengar suara tawa terbahak-bahak. “Ha… ha… ha…, anak manusia, anak manusia!”

“Hei, Raja Ular! Keluarlah jika kau berani!” seru Gajah Merik sambil mundur beberapa langkah.Merasa ditantang, sang Raja Ular pun mendesis. Desisannya mengeluarkan kepulan asap. Beberapa saat kemudian, kepulan asap itu menjelma menjadi seekor ular raksasa. “Hebat sekali kau anak kecil! Tidak seorang manusia pun yang mampu memasuki istanaku. Kamu siapa dan apa maksud kedatanganmu?” tanya Raja Ular itu.

“Aku Gajah Merik, putra Raja Bikau Bermano dari Kerajaan Kutei Rukam,” jawab Gajah Merik. “Lepaskan abangku dan istrinya, atau aku musnahkan istana ini!” tambah Gajah Merik mengancam. “Ha… ha…. ha…., anak kecil, anak kecil! Aku akan melepaskan abangmu, tapi kamu harus penuhi syaratku,” ujar Raja Ular. “Apa syarat itu?” tanya Gajah Merik.

“Pertama, hidupkan kembali para pengawalku yang telah kamu bunuh. Kedua, kamu harus mengalahkan aku,” jawab Raja Ular sambil tertawa berbahak-bahak. “Baiklah, kalau itu maumu, hei Iblis!” seru Gajah Merik menantang. Dengan kesaktian yang diperoleh dari kakek di dalam mimpinya, Gajah Merik segera mengusap satu per satu mata ular-ular yang telah dibunuhnya sambil membaca mantra. Dalam waktu sekejap, ular-ular tersebut hidup kembali. Raja Ular terkejut melihat kesaktian anak kecil itu.

“Aku kagum kepadamu, anak kecil! Kau telah berhasil memenuhi syaratku yang pertama,” kata Raja Ular. “Tapi, kamu tidak akan mampu memenuhi syarat kedua, yaitu mengalahkan aku. Ha… ha… ha….!!!” tambah Raja Ular kembali tertawa terbahak-bahak. “Tunjukkanlah kesaktianmu, kalau kamu berani!” tantang Gajah Merik.

Tanpa berpikir panjang, Raja Ular itu langsung mengibaskan ekornya ke arah Gajah Merik. Gajah Merik yang sudah siap segera berkelit dengan lincahnya, sehingga terhindar dari kibasan ekor Raja Ular itu. Perkelahian sengit pun terjadi. Keduanya silih berganti menyerang dengan mengeluarkan jurus-jurus sakti masing-masing. Perkelahian antara manusia dan binatang itu berjalan seimbang.

Sudah lima hari lima malam mereka berkelahi, namun belum ada salah satu yang terkalahkan. Ketika memasuki hari keenam, Raja Ular mulai kelelahan dan hampir kehabisan tenaga. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Gajah Merik. Ia terus menyerang hingga akhirnya Raja Ular itu terdesak. Pada saat yang tepat, Gajah Merik segera menusukkan selendangnya yang telah menjelma menjadi pedang ke arah perut Raja Ular.

“Aduuuhh… sakiiit!” jerit Raja Ular menahan rasa sakit. Melihat Raja Ular sudah tidak berdaya, Gajah Merik mundur beberapa langkah untuk berjaga-jaga siapa tahu raja ular itu tiba-tiba kembali menyerangnya. “Kamu memang hebat, anak kecil! Saya mengaku kalah,” kata Raja Ular. Mendengar pengakuan itu, Gajah Merik pun segera membebaskan abangnya dan Putri Jinggai yang dikurung dalam sebuah ruangan.

Sementara itu di istana, Raja Bikau Bermano beserta seluruh keluarga istana dilanda kecemasan. Sudah dua minggu Gajah Merik belum juga kembali dari pertapaannya. Oleh karena itu, sang Raja memerintahkan beberapa hulubalang untuk menyusul Gajah Merik di Tepat Topes. Namun, sebelum para hulubalang itu berangkat, tiba-tiba salah seorang hulubalang yang ditugaskan menjaga tempat pemandian di tepi Danau Tes datang dengan tergesa-gesa.

“Ampun, Baginda! Gajah Merik telah kembali bersama Gajah Meram dan Putri Jinggai,” lapor hulubalang. “Ah, bagaimana mungkin? Bukankah Gajah Merik sedang bertapa di Tepat Topes?” tanya baginda heran.

“Ampun, Baginda! Kami yang sedang berjaga-jaga di danau itu juga terkejut, tiba-tiba Gajah Merik muncul dari dalam danau bersama Gajah Meram dan Putri Jinggai. Rupanya, seusai bertapa selama tujuh hari tujuh malam, Gajah Merik langsung menuju ke istana Raja Ular dan berhasil membebaskan Gajah Meram dan Putri Jinggai,” jelas hulubalang itu.

“Ooo, begitu!” jawab sang Raja sambil tersenyum.

Tidak berapa lama kemudian, Gajah Merik, Gajah Meram, dan Putri Jinggai datang dengan dikawal oleh beberapa hulubalang yang bertugas menjaga tempat pemandian itu. Kedatangan mereka disambut gembira oleh sang Raja beserta seluruh keluarga istana. Kabar kembalinya Gajah Meram dan keperkasaan Gajah Merik menyebar ke seluruh pelosok negeri dengan cepat. Untuk menyambut keberhasilan itu, sang Raja mengadakan pesta selama tujuh hari tujuh malam. Setelah itu, sang Raja menyerahkan tahta kerajaan kepada Gajah Meram. Namun, Gajah Meram menolak penyerahan kekuasaan itu.

“Ampun, Ayahanda! Yang paling berhak atas tahta kerajaan ini adalah Gajah Merik. Dialah yang paling berjasa atas negeri ini, dan dia juga yang telah menyelamatkan Ananda dan Putri Jinggai,” kata Gajah Meram. “Baiklah, jika kamu tidak keberatan. Bersediakah kamu menjadi raja, Putraku?” sang Raja kemudian bertanya kepada Gajah Merik.

“Ampun, Ayahanda! Ananda bersedia menjadi raja, tapi Ananda mempunyai satu permintaan,” jawab Gajah Merik memberi syarat. “Apakah permintaanmu itu, Putraku?” tanya sang Raja penasaran. “Jika Ananda menjadi raja, bolehkah Ananda mengangkat Raja Ular dan pengikutnya menjadi hulubalang kerajaan ini?” pinta Gajah Merik.

Permintaan Gajah Merik dikabulkan oleh sang Raja. Akhirnya, Raja Ular yang telah ditaklukkannya diangkat menjadi hulubalang Kerajaan Kutei Rukam.

Kisah petualangan Gajah Merik ini kemudian melahirkan cerita tentang Ular Kepala Tujuh. Ular tersebut dipercayai oleh masyarakat Lebong sebagai penunggu Danau Tes. Sarangnya berada di Teluk Lem sampai di bawah Pondok Lucuk. Oleh karena itu, jika melintas di atas danau itu dengan menggunakan perahu, rakyat Lebong tidak berani berkata sembrono.

*****

Demikian cerita Ular Kepala Tujuh dari Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu, Indonesia. Cerita rakyat di atas termasuk kategori cerita legenda yang mengandung pesan-pesan moral. Setidaknya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu sifat rendah hati dan tahu diri.

Pertama, sifat rendah hati. Sifat ini tercermin pada perilaku Gajah Merik. Walaupun memiliki ilmu yang tinggi, ia tidak pernah pamer dan menyombongkan diri. Sifat ini dapat memupuk ikatan tali persaudaraan. Sebagaimana dikatakan dalam untaian syair berikut ini:

wahai ananda kekasih bunda,
janganlah engkau besar kepala
rendahkan hati kepada manusia
supaya kekal tali saudara

Kedua, sifat tahu diri. Sifat ini tercermin pada perilaku Gajah Meram. Semestinya dialah yang berhak dinobatkan menjadi raja, namun karena menyadari bahwa adiknya memiliki kesaktian yang lebih tinggi dari pada dirinya, maka ia pun menyerahkan tampuk kekuasaan Kerajaan Kutei Rukam kepada adiknya, Gajah Merik. Dari sini dapat dipetik sebuah pelajaran bahwa dengan memahami kekurangan dan kelebihan dirinya, seseorang akan tahu menempatkan diri dalam pergaulan kehidupan sehari-hari. Dikatakan dalam ungkapan Melayu:

apa tanda tahu dirinya:
hamba tahu akan Tuhannya
anak tahukan orang tuanya
raja tahukan daulatnya
alim tahukan kitabnya
hulubalang tahukan kuatnya
cerdik tahukan bijaknya
guru tahukan ilmunya
tua tahukan amanahnya
muda tahukan kurangnya
lebih tahukan kurangnya

Ular N'Daung (Kisah Rakyat Rejang)

Kisah ini menceritakan tentang legenda yang terjadi di kaki gunung Bengkulu hiduplah seorang wanita tua dengan tiga orang putrinya. Pada suatu saat Wanita tua tersebut sakit keras, menurut tabib terbaik dari daerah tersebut wanita tua itu akan terus sakit keras kecuali bila di diberi obat yang sangat langka. obat-obatan tersebut adalah daun-daunan dari hutan yang di bakar dengan bara gaib, dari cerita penduduk di daerah sana bara tersebut hanya didapat dari puncak gunung. Bara gaib tersebut dijaga oleh seekor ular raksasa bernama Ular n'Daung yang sangat menyeramkan, konon ular tersebut akan memangsa siapapun yang mendekatinya. Diantara ketiga anak tersebut hanya putri bungsulah yang menyanggupi untuk mengambil bara gaib, maka pergilah si putri bungsu menuju puncak gunung. Tempat di dekat puncak gunung amatlah seram bahkan cahaya matahari tidak dapat masuk dihalangi oleh daun-daun yang lebat dan gua-gua yang dalam juda lebar. Tiba-tiba terdengar gaungan yang sangat menyeramkan pertanda Ular n'Daung, dengan gemetaran putri bungsu tersebut meminta pada sang ular satu bara gaib. Tanpa diduga ular tersebut membalas dengan ramah "boleh saja tetapi dengan satu syarat setelah ibumu sehat kau kembali kesini dan jadilah istriku". Karena kepedulian terhadap ibunya putri tersebut menyanggupi syarat si ular, maka pulanglah si putri bungsu menuju rumahnya. Berkat bara gaib itu wanita tua yang sakit keras kini telah menjadi sehat. Karena teringat dengan janjinya berangkatlah si putri bungsu kepuncak gunung pada malam hari untuk menikahi ular n'daung. Pada malam hari anehnya ular tersebut berubah menjadi satria tampan bernama Pangeran Abdul Rahman Alamsjah. Pada pagi harinya ia akan kembali menjadi ular. Hal itu disebabkan oleh karena ia disihir oleh pamannya menjadi ular. Pamannya tersebut menghendaki kedudukannya sebagai calon raja. Karena penasaran apa yang terjadi pada sang adik kedua kakaknya pergi ke puncak gunung dan justru melihat adik mereka bersama seorang satria yang tampan, karena kesirikan mereka berdua membakar kulit ular tersebut. Ketika menemukan kulit ular terbakar pangeran tersebut menceritakan dengan senangnya bahwa dia akan terbebas dari kutukan bila ada seseorang yang membakar kulitnya. Kemudian, si Ular n'Daung yang sudah selamanya menjadi Pangeran Alamsjah memboyong si Bungsu ke istananya. Pamannya yang jahat diusir dari istana. Si Bungsu pun kemudian mengajak keluarganya tinggal di istana. Tetapi dua kakaknya yang sirik menolak karena merasa malu akan perbuatannya.

Si Parkit Raja Parakeet (Calitera Aneuk Nanggroe)

Alkisah, di tengah hutan belantara di daerah Aceh, hiduplah sekawanan burung parakeet yang hidup damai, tenteram, dan makmur. Setiap hari mereka bernyanyi riang dengan suara merdu bersahut-sahutan dan saling membantu mencari makanan. Kawanan burung tersebut dipimpin oleh seorang raja parakeet yang bernama si Parkit. Namun, di tengah suasana bahagia itu, kedamaian mereka terusik oleh kedatangan seorang Pemburu. Ternyata, ia berniat menangkap dan menjual burung parakeet tersebut.

Pelan-pelan tapi pasti, si Pemburu itu melangkah ke arah kawanan burung parakeet itu, lalu memasang perekat di sekitar sarang-sarangnya. “Ehm….Aku akan kaya raya dengan menjual kalian!”, gumam si Pemburu setelah selesai memasang banyak perekat. Si Pemburu itu pun tersenyum terus membayangkan uang yang akan diperolehnya. Gumaman si Pemburu tersebut didengar kawanan burung parakeet, sehingga mereka menjadi ketakutan. Mereka berkicau-kicau untuk mengingatkan antara satu sama lainnya.


“Hati-hati! Pemburu itu telah memasang perekat di sekitar sarang kita! Jangan sampai tertipu! Sebaiknya kita tidak terbang ke mana-mana dulu!” seru seekor burung parakeet.

“Ya, betul! Kita memang harus berhati-hati,” sahut burung parakeet yang lain.

Namun, karena harus mencari makan, burung-burung parakeet itu pun keluar dari sarangnya. Alhasil, apa yang ditakutkan burung-burung parakeet itu pun terjadi. Bencana tak terelakkan, burung-burung parakeet itu terekat pada perekat si Pemburu. Mereka meronta-ronta untuk melepaskan diri dari perekat tersebut, namun usaha mereka sia-sia. Kawanan burung parakeet tersebut menjadi panik dan bingung, kecuali si Parkit, raja parakeet.

Melihat rakyatnya kebingungan, Raja Parakeet berkata, “Tenang, Rakyatku! Ini adalah perekat yang dipasang si Pemburu. Berarti dia ingin menangkap kita hidup-hidup. Jadi, kalau kita mati, si Pemburu itu tidak akan mengambil kita. Besok, ketika si Pemburu itu datang, kita pura-pura mati saja!”

Mendegar penjelasan raja Parakeet itu, rakyatnya terdiam. Sejenak, suasana menjadi hening. Di tengah keheningan itu, “Berpura-pura mati? Untuk apa?”, tanya seekor parakeet, membuat burung parakeet lainnya menoleh ke arahnya.

Si Parkit tersenyum mendengar pertanyaan itu, “Besok, setelah si Pemburu melepaskan kita dari perekat yang dipasangnya, dia akan memeriksa kita satu per satu. Bila dilihatnya kita telah mati, maka dia akan meninggalkan kita di sini. Tunggu sampai hitunganku yang ke seratus agar kita dapat terbang secara bersama-sama!”.

Semua rakyatnya ternganga mendengar penjelasan si Parkit. “Oh, begitu..!? Baiklah, besok kita akan berpura-pura mati agar dapat bebas dari Pemburu itu!”, sahut rakyatnya setuju. Kini, rakyatnya sudah mengerti apa yang direncanakan oleh si Parkit. Mereka berjanji akan menuruti perintah rajanya.

Keesokan harinya, si Pemburu pun datang. Dengan sangat hati-hati, si Pemburu melepaskan burung parakeet tersebut satu persatu dari perekatnya. Ia sangat kecewa, karena tak satu pun burung parakeet yang bergerak.  Dikiranya burung parakeet tersebut telah mati semua, ia pun membiarkannya. Dengan rasa kesal, si Pemburu berjalan seenaknya, tiba-tiba ia jatuh terpeleset. Kawanan burung parakeet yang berpura-pura mati di sekitarnya pun kaget dan terbang dengan seketika tanpa menunggu hitungan dari si Parkit. Si Pemburu pun berdiri kaget, karena ia merasa telah ditipu oleh kawanan burung parakeet itu. Namun, tiba-tiba ia tersenyum, karena melihat ada seekor burung parakeet yang masih melekat pada perekatnya. Lalu ia menghampiri burung parakeet tersebut, yang tidak lain adalah si Parkit.

“Kamu akan kubunuh!”, bentak si Pemburu dengan marah. Si Parkit sangat ketakutan mendengar bentakan si Pemburu. Si Parkit yang cerdik itu, tidak mau kehilangan akal. Ia segera berpikir untuk menyelematkan diri, karena ia tidak mau dibunuh oleh si Pemburu itu.

“Ampuni hamba, Tuan! Jangan bunuh hamba! Lepaskan hamba, Tuan!” pinta si Parkit.

“Enak saja! Kamu dan teman-temanmu telah menipuku. Kalau tidak, pasti aku sudah banyak menangkap kalian!” kata si Pemburu dengan marah.

“Iya. Tapi itu kan bukan salahku. Ampuni hamba, Tuan! Hamba akan menghibur Tuan setiap hari!” kata si Parkit memohon.

“Menghiburku?” tanya si Pemburu.

“Betul, Tuan. Hamba akan bernyanyi setiap hari untuk Tuan!” seru si Parkit.

Si Pemburu diam sejenak memikirkan tawaran burung parakeet itu. “Memangnya suaramu bagus?” tanya si Pemburu itu mulai tertarik.

Si Parkit pun bernyanyi. Suara si Parkit yang merdu itu berhasil mumbujuk si Pemburu, sehingga ia tidak jadi dibunuh. “Baiklah, aku tidak akan membu nuhmu, tapi kamu harus bernyanyi setiap hari!” kata si Pemburu. Karena takut dibunuh, si Parkit pun setuju.

Setelah itu, si Pemburu membawa si Parkit pulang. Sesampai di rumahnya, si Parkit tidak dikurung dalam sangkar, tapi salah satu kakinya diikat pada tiang yang cukup tinggi. Sejak saat itu, setiap hari si Parkit selalu bernyanyi untuk menghibur si Pemburu itu. Si Pemburu pun sangat senang mendengarkan suara si Parkit. “Untung….aku tidak membunuh burung parakeet itu”, ucap si Pemburuh. Ia merasa beruntung, karena banyak orang yang memuji kemerduan suara si Parkit.

Sampai pada suatu hari, kemerduan suara si Parkit tersebut terdengar oleh Raja Aceh di istananya. Raja Aceh itu ingin agar burung parakeet itu menjadi miliknya. Sang Raja memanggil si Pemburu menghadap kepadanya. Si Pemburu pun datang ke istana dengan perasaan bimbang, karena ia sangat sayang pada si Parkit.

Sampai di hadapan Raja Aceh, ia tidak bersedia memberikan si Parkit yang bersuara merdu itu kepada Sang Raja.

“Ampun, Baginda! Hamba tidak bermaksud menentang keinginan Baginda!” kata si Pemburu memberi hormat.

“Lalu, kenapa kamu tidak mau memberikan burung itu?” tanya sang Raja.

“Ampun, Baginda! Mohon beribu ampun! Hamba sangat sayang pada burung tersebut. Selama ini hamba telah memeliharanya dengan baik”, jawab si Pemburu.

Mendengar jawaban itu, “Kalau begitu, bagaimana jika kuganti dengan uang yang sangat banyak.?”, sang Raja menawarkan.

Pemburu itu pun terdiam sejenak memikirkan tawaran itu. Tidak lama, “Ampun, Baginda! Jika Baginda benar-benar menyukai burung parakeet tersebut, silakan kirim pengawal untuk mengambilnya!” kata si Pemburu sambil memberi hormat.

Sang Raja sangat senang mendengar jawaban si Pemburu. Ia pun segera memerintahkan beberapa pengawalnya untuk mengambil burung parakeet tersebut dan menyerahkan uang yang dijanjikannya kepada si Pemburu.

Si Parkit pun dibawa ke istana dan dimasukkan ke dalam sangkar emas. Setiap hari si Parkit disediakan makanan yang enak. Meskipun semuanya serba enak, namun si Parkit tetap tidak senang, karena ia merasa terpenjara. Ia ingin kembali ke hutan belantara tempat tinggalnya dulu, agar ia bisa terbang bebas bersama rakyatnya. Karena merasa sedih, si Parkit sudah beberapa hari tidak mau menyanyi untuk sang Raja.

Mengetahui burung parakeetnya tidak mau menyanyi lagi, sang Raja mulai bimbang memikirkan burung parakeetnya. Karena ingin tahu keadaan burung itu yang sebenarnya, maka sang Raja pun memanggil petugas istana, “Kenapa burung parakeetku tidak mau bernyanyi lagi beberapa hari ini? Dia sakit, ya?”.

Petugas Istana itu menjawab, “Maaf, Tuanku. Hamba juga tidak tahu apa sebabnya. Saya telah memberinya makan seperti biasanya, tetapi tetap saja ia tidak mau bernyanyi,”.

Mendengar jawaban dari Petugas Istana tersebut, Raja Aceh menjadi sedih melihat burung parakeetnya yang tidak mau bernyanyi lagi. “Ada apa, ya?” gumam sang Raja.

Beberapa hari kemudian, si Parkit bahkan tidak mau memakan apa pun yang disediakan di dalam sangkar emasnya. Ia terus teringat pada hutan belantara tempat tinggalnya dulu. Si Parkit pun mulai berpikir, “Bagaimana caranya ya....aku bisa keluar dari sangkar ini?”, gumam si Parkit.

Tak lama, ia pun menemukan akal, “Aahh....aku harus berpura-pura mati lagi!”, si Parkit tersenyum sambil membayangkan dirinya lepas dan terbang tinggi. Akhirnya, pada suatu hari, ia pun berpura-pura mati. Petugas Istana yang mengetahui si Parkit mati segera menghadap sang Raja.

“Ampun, Tuanku. Hamba sudah merawat dan memelihara sebaik mungkin, tapi burung parakeet ini tidak tertolong lagi. Mungkin karena sudah tua,” kata Petugas Istana melaporkan kematian si Parkit.

Sang Raja sangat sedih mendengar berita kematian burung parakeetnya, sebab tidak akan ada lagi yang menghiburnya. Meskipun sang Raja masih memiliki burung parakeet yang lain, tetapi suaranya tidak semerdu si Parkit. Karena si Parkit tidak bisa tertolong lagi,

“Siapkan upacara penguburan! Kuburkan burung parakeetku itu dengan baik!” perintah sang Raja.

“Siap, Tuanku! Hamba laksanakan!” sahut Petugas Istana.

Penguburan si Parkit akan dilaksanakan dengan upacara kebesaran kerajaan. Pada saat persiapan penguburan, si Parkit dikeluarkan dari sangkarnya karena dianggap sudah mati. Ketika ia melihat semua orang sibuk, dengan cepatnya ia terbang setinggi-tingginya. Di udara ia berteriak dengan riang gembira, “Aku bebaasss...!!! Aku bebaasss....!!!. Orang-orang hanya terheran-heran melihat si Parkit yang dikira sudah mati itu bisa terbang tinggi. Akhirnya si Parkit yang cerdik itu bebas terbang ke hutan belantara tempat tinggalnya dulu yang ia cintai. Kedatangan si Parkit pun disambut dengan meriah oleh rakyatnya. Akhirnya, Si Parkit, Raja Parakeet, kembali tempat tinggalnya. ***

Jumat, 22 Oktober 2010

Kata siapa, la ilaha illallah berarti 'Tidak ada Pencipta selain Allah'?

Dari uraian terdahulu, kita udah tau bahwa orang-orang musyrik di zaman Rasulullah mengakui ketuhanan Allah, tetapi hal itu belum berarti mereka telah bertauhid seperti yang menjadi tujuan dakwah Rasulullah kepada mereka. Kita juga udah tau bahwa yang diingkari oleh mereka adalah tauhid ibadah.
Orang-orang musyrik itu senantiasa berdoa kepada Allah di malam dan siang hari. Kemudian di antara mereka, ada yang berdoa kepada malaikat karena keshalihan dan kedekatan malaikat ini kepada Allah dengan harapan dapat memberikan syafaat kepada mereka. Atau ada juga dari mereka yang berdoa kepada orang-orang shalih seperti Latta, atau kepada seorang nabi, misalnya Isa.
Dan kita pun udah tau bahwa Rasulullah memerangi orang musyrik karena kesyirikan ini dan mengajak mereka agar mengkhususkan ibadah kepada Allah saja, sebagaiman firman Allah: "Maka janganlah kalian menyeru kepada seorang pun bersama Allah". (Al Jin :18)
Allah juga berfirman: "Hanya bagi Allah lah hak mengabulkan doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah itu tidak dapat memperkenankan sesuatu pun untuk mereka." (Ar-Ra'd 14)

Udah jelas juga bahwa Rasulullah memerangi orang-orang musyrik itu agar seluruh doanya hanya ditujukan kepada Allah, seluruh penyembelihan kurban hanya untuk Allah, seluruh nadzar hanya untuk Allah, permohonan pertolongan hanya kepada Allah, dan semua bentuk ibadah hanya kepada Allah.

Kita udah tau, bahwa pengakuan mereka terhadap ketuhanan Allah belum memasukkan mereka kepada Islam; dan bahwa ibadah yang mereka tujukan kepada malaikat, para nabi atau para wali untuk mendapatkan syafaat serta taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah adalah hal-hal yang menjadikan darah dan harta mereka menjadi halal. Dengan demikian, kita udah tau apa maksud tauhid yang diseru oleh para rasul tetapi ditolak oleh orang-orang musyrik.

Inilah tauhid yang merupakan makna dari kalimat La ilaha illallah...
Ilah yang dimaksud orang musyrik adalah berkaitan dengan hal-hal tadi, baik berupa malaikat, nabi, wali, pohon, kuburan, atau jin. Mereka tidak pernah berprasangka bahwa makna ilaah yang dimaksud adalah yang menciptakan, yang memberi rizki, dan yang mengatur alam semesta, karena mereka mengakui semua itu adalah Allah. Akan tetapi, yang mereka maksudkan dengan ilah adalah seperti yang dimaksud dengan orang musyrik jaman kita ini dengan kata As-Sayyid. Dalam keadaan seperti itu, datanglah Nabi menyeru kepada kalimat tauhid yaitu La ila ha illallah.

Yang dimaksud dengan kalimat ini adalah maknanya, bukan sekedar pengucapannya. Orang-orang kafir yang bodoh pun tau bahwa maksud perkataan nabi adalah mengesakan Allah dengan selalu bergantung pada-Nya dan mengingkari serta berlepas diri dari semua bentuk sesembahan lain. Maka dari itu, ketika beliau menyeru kepada mereka : "Katakanlah, La ilaha illallah. Mereka menjawab, 'Apakah dia mau menjadikan sesembahan yang banyak ini menjadi satu sesembahan saja?? Sungguh, ini adalah sesuatu yang sangat mengherankan." (Ash-Shad 5)

Nah, kalau kita udah tau bahwa orang kafir yang paling bodoh pun tau makna kalimat ini, maka aneh sekali dan sangat mengherankan kalau ada orang yang mengaku islam sementara dia tidak tau maknanya. Bahkan dia menyangka bahwa kalimat itu cukup sekedar diucapkan kata-katanya tanpa perlu diyakini maknanya dalam hati. Dan orang-orang pandai di kalangan ini pun menyangka bahwa makna kalimat tauhid adalah 'Tidak ada yang Menciptakan, yang memberi rezeki, yang mengatur urusan selain Allah.' Kalau lah benar mereka seperti itu, maka tidak lebih baik dari orang-orang kafir yang paling bodoh sekalipun, karena sebodoh-bodohnya orang kafir lebih tau tentang makna la ilaha illallah sehingga mereka enggak kalau diajak masuk islam.

Jumat, 15 Oktober 2010

Orang musyrik Mekah, mengakui Ketuhanan Allah. Kenapa diperangi??

La ilaaha illa Allah adalah kalimat tauhid.

Ketahuilah bahwasanya tauhid adalah mengesakan Allah dalam hal ibadah. Tauhid inilah agama para rasul yang diutus oleh Allah kepada para hamba-Nya.

Rasul pertama yang diutus oleh Allah kepada manusia adalah Nuh alaihissalam. Beliau diutus kepada kaumnya tatkala mereka terlalu berlebihan menghormati orang shaleh, yakni Wadd, Suwa', Yaghuts, dan Nasr.

Dalam shahih Bukhari terdapat sebuah riwayat dari Ibnu Abbas, ia berkata: "Nama-nama itu adalah nama orang shaleh dari kalangan kaum Nuh. Tatkala mereka meninggal, setan membisikkan kepada kaumnya supaya ditempat-tempat mereka biasa berkumpul, dibangun patung-patung dan diberi nama dengan nama mereka. Kaumnya pun melakukannya, tetapi mereka tidak sampai melakukan penyembahan kepada patung-patung itu. Namun setelah generasi berganti, barulah patung-patung ini disembah oleh anak-anak cucu mereka."

Sedangkan rasul terakhir yang diutus Allah adalah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Beliaulah yang telah menghancurkan patung-patung orang shalih tersebut saat peristiwa Fathu Makkah. Saat itu ada 360 buah patung di sekitar Ka'bah dan dihancurkan dengan tongkatnya sambil membaca firman Allah: "Telah datang kebenaran dan binasalah kebatilan. Sesungguhnya kebatilan itu pasti binasa."

Beliau diutus oleh Allah kepada kaum yang banyak beribadah, berhaji, bersedekah, dan sering berdzikir kepada Allah, akan tetapi mereka masih menjadikan sebagian makhluk sebagai perantara antara mereka dan Allah. Mereka berkata, kami bermaksud agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dan kami menginginkan agar mereka memberi syafa'at kepada kami dihadapan Allah sebagaimana malaikat, Isa, Maryam, dan orang-orang shaleh selain mereka. Padahal Allah berkata: "Maka tidak bermanfaat kepada mereka syafaat dari para pemberi syafaat." (Al-Mudatsir: 48)

Maka Allah mengutus Muhammad untuk memperbarui agama nenek moyang mereka, yakni Ibrahim, dan memberitahukan kepada mereka bahwa segala bentuk pendekatan diri (taqarrub) dan keyakinan (i'tiqad) hanya khusus kepada Allah. Tidak boleh sedikitpun diberikan kepada yang lain, baik kepada malaikat yang dekat dengan Allah, atau nabi yang diutus, apalagi kepada yang lainnya...

Demikianlah, orang-orang musyrik itu pun bersaksi bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta, tidak ada sekutu-Nya. Tidak ada yang memberi rizki selain Dia. Tidak ada yang mengatur segala urusan selain Dia. Dan bahwasanya seluruh langit beserta isinya, dan bumi beserta isinya pula, adalah hamba-hamba-Nya. Semuanya tunduk di bawah kekuasaan dan pengaturan-Nya.

Buktinya, bacalah Yunus:31. "Katakanlah, 'Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan??' Pasti mereka akan menjawab: 'Allah!' Maka katakanlah, 'Lantas, mengapa kalian tidak mau bertaqwa kepada-Nya?'

Baca juga Al-Mukminun 84-89. "Katakanlah kepada mereka, 'Kepunyaan siapakah bumi ini dan semua yang ada padanya, jika engkau mengetahui?' Mereka akan menjawab 'Kepunyaan Allah'. Katakanlah: 'Apakah kalian tidak mau sadar?' Katakanlah: 'Siapakah yang mempunyai langit yang tujuh dan yang mempunyai singgasana yang besar?' Mereka akan menjawab 'Kepunyaan Allah'. Katakanlah, 'Mengapa kalian tidak mau bertaqwa?' Katakanlah, 'Siapakah yang ditangan-Nya ada kekuasaan terhadap segala sesuatu, yang melindungi tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika engkau mengetahui?'"

Lantas mengapa mereka diperangi oleh Rasulullah?
Tentu sudah jelas jawabannya...

Minggu, 26 September 2010

Siap Serius Bekerja



Jika sudah selesai dari suatu pekerjaan, maka tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain. 
(Al-Insyirah:7)

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkisah,
“Aku melihat seorang pemuda, ia membuatku kagum. Lalu aku bertanya kepada orang-orang mengenai pekerjaannya. Mereka mengatakan bahwa ia tidak bekerja. Seketika itu pemuda tersebut jatuh martabatnya di mataku”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
“Pendapatan yang terbaik dari seseorang adalah hasil jerih payah tangannya”

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seorang lelaki yang kulit tangannya kasar, beliau bersabda,
“Tangan ini dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya”

Beliau juga bersabda,
“Jika qiamat telah datang, dan ketika itu kalian memiliki cangkokan tanaman, tanamlah!”

Kenapa perlu kerja??
Ternyata karena:

Beliau juga bersabda,
“Seseorang itu sudah cukup dikatakan sebagai pendosa jika ia menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggungannya”

Duduk di masjid menyibukkan diri dalam urusan agama, menuntut ilmu agama atau beribadah namun menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya, ia adalah seorang pendosa. Bekerja untuk menjaga iffah dirinya, istrinya dan anak-anaknya adalah ibadah.

Al Baihaqi dalam kitabnya, Syu’abul Iman, membawakan sebuah riwayat dari Umarradhiyallahu ‘anhu:
“Wahai para pembaca Qur’an (yaitu ahli ibadah), angkatlah kepada kalian, sehingga teranglah jalan. Lalu berlombalah dalam kebaikan. Dan janganlah menjadi beban bagi kaum muslimin”

Dan janganlah menjadi beban bagi orang lain. Muhammad bin Tsaur menceritakan, suatu ketika Sufyan Ats Tsauri melewati kami yang sedang berbincang di masjidil haram. Ia bertanya: ‘Kalian sedang membicarakan apa?’. Kami berkata: ‘Kami sedang berbincang tentang mengapa kita perlu bekerja?’. Beliau berkata:
“Carilah rezeki dari Allah dan janganlah menjadi beban bagi kaum muslimin”.

Pada kesempatan lain, Sufyan Ats Tsauri sedang sibuk mengurus hartanya. Lalu datanglah seorang pelajar menanyakan sebuah permasalahan kepadanya, padahal beliau sedang sibuk berjual-beli. Orang tadi pun lalu memaparkan pertanyaannya. Sufyan Ats Tsauri lalu berkata: ‘Wahai anda, tolong diam, karena konsentrasiku sedang tertuju pada dirhamku, dan ia bisa saja hilang (rugi)’. Beliau pun biasa mengatakan,
“Jika dirham-dirham ini hilang, para raja akan memanjakan diriku”

Ayyub As Sikhtiani berkata:
“Konsistenlah pada usaha dagangmu, karena engkau akan tetap mulia selama tidak berrgantung pada orang lain”

Agama kita tidak mengajak untuk miskin. Ali radhiallahu ‘anhu berkata:
“Andaikan kefaqiran itu berwujud seorang manusia, sungguh akan aku bunuh ia”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berdoa,
“Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari kekafiran dan kefaqiran”

Maka wajib bagi setiap muslim untuk bekerja, berusaha, bersungguh-sungguh dan tidak menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya. Orang yang hanya duduk diam, ia bukanlah mutawakkil (orang yang tawakal), melainkan ia adalahmutawaakil (orang yang lemah sehingga mempercayakan urusannya pada orang lain). Ini adalah kemalasan.

Orang yang inginnya meminta-meminta dari orang lain, Allah akan membukakan baginya pintu kefaqiran. Orang yang bekerja, dialah orang yang kaya. Karena kekayaan hakiki bukanlah harta, melainkan kekayaan jiwa. Orang yang kaya jiwanya tidak gemar meminta-minta kepada orang lain.

Manusia diciptakan di dunia agar mereka dapat bekerja, berusaha dan bersungguh-sungguh. Para nabi pun bekerja.

Semoga Allah Ta’ala memberi kita taufiq agar menjalankan apa yang Allah cintai dan ridhai.

Modal Otak v.s Duit

Unpredicted Market bukanlah hal asing, namun selalu ada kontrol-kontrol yang dapat dijadikan parameter yang berperan dalam alterasi kondisi pasar.


Market Value misalnya sangat bergantung pada dua aset utama, tangible assets dan intangible assets. Tangible assets berupa financial dan physical capital, sementara intangible assets berupa intellectual capital.

Senantiasa ada dua hal ini dalam suatu perusahaan yang sukses. Kelas ini bertujuan melahirkan pengusaha-pengusaha muda yang siap secara mental dan intelektual memikul beban suatu perusahaan. Sekonyong-konyong yang terbayang adalah uang dan benda-benda. Sehingga langkah mundur terbayang dibenak masing-masing pejuang usaha yang kehilangan modal ataupun propertynya. Pada kenyataannya, usaha tidak hanya dibentuk dengan uang dan barang, namun diperlukan modal lain selain keduanya, yaitu intellectual capital.

Orang-orang yang berpikir dengan pemikiran yang primitif selalu menginginkan hal-hal yang kontan. Menyadari dana yang dikeluarkan untuk pendidikan sangat mahal, pemikiran 'kontan'-nya mengatakan, gunakan saja uangnya sebagai modal usaha. Bisa langsung dapat untung. Tahun depan bisa panen. Dst. Namun jarang yang menyadari bahwa pendidikan adalah investasi untuk memperoleh suatu modal yang tidak terbilang besarnya, intellectual capital.

Banyak orang yang memiliki sejumlah uang, namun tidak mengetahui peluang investasi, selalu mencari-cari inovasi-inovasi dari para pemilik intellectual capital. Jika para pemilik modal memiliki uang 1T untuk investasinya, maka para pemilik intellectual capital memiliki inovasi yang harganya dapat menghabiskan seluruh modal si pemilik financial capital. Dengan kata lain, bisnis tanpa modal financial dan physical sangat mungkin bagi para pemilik intellectual capital. Investasi pendidikan akan memberikan GIANT POSSITIVE VALUE (GPV) bagi pelaksananya. Para pemikir jangka panjang yang berhasil merekonstruksi masa depan akan sadar dengan pentingnya pendidikan sebagai media melipatgandakan kapital yang terbatas.

Irisan yang sempurna dari intellectual capital of customers, organizations, and human akan melahirkan value yang sangat besar bagi suatu perusahaan. Pemilik modal finansial tentu akan sangat tertarik dengan GPV ini.

Inovasi hanya dilahirkan oleh orang yang memiliki human intellectual capital. Mereka 'merekonstruksi' masa depan, selalu berada dipuncak, dan terlibat dalam keputusan-keputusan penting.




4 Model Besar Inovasi:

1. Focused Factory

Fokus pada suatu bidang yang menjadi bakatnya dan mengawinkannya dengan strategi yang apik untuk menghasilkan solusi dalam menjawab tantangan zaman.

Tantangan zaman saat ini adalah masalah krisis energi. Seseorang akan bernilai jual tinggi jika berhasil memberikan inovasi baru terkait permasalahan krisis energi.

Negara yang menerapkan model ini adalah German dan Singapore.

2. Brute Force

Memukul pasar dengan telak, misalnya produksi suatu unit dalam jumlah yang sangat besar sehingga memenuhi market-market di dunia. Negara yang menggunakan model ini adalah Cina. Contohnya produk kalkulator yang dijual sangat murah (10ribu dapat 3). Indonesia melalui BPPT mencoba memasarkan kalkulator murah, namun masih berada di harga 11ribu, sehingga tidak dapat bersaing dengan produk dari Cina. Cina diuntungkan dengan sistem sosialisnya, bahwa pekerja tidak digaji, namun hanya dijamin makanan, asuransi, dan pendidikan anak sehingga memiliki biaya produksi yang sangat murah. Gaji hanya diberikan kepada orang yang bisa memberi lebih. Misal, jika seorang karyawan dalam sehari harus berhasil membuat dua produk, maka karyawan yang berhasil membuat 3 akan mendapatkan satu nilai gaji, 4 dua nilai gaji, dst.

Negara lain yang menggunakan model ini adalah India.

3. Hollyworld

Model yang diterapkan di Bangalone, suatu kota di India yang khusus dijadikan pusat inovasi IC. Di kota ini dibangun ribuan sekolah diploma untuk menciptakan inovasi IC yang baru.

Model ini dilaksanakan dengan menciptakan Global Creative Class yang menjadi pusat inovasi.

Helsinki dan Toronto termasuk kategori Global Creative Class disamping Bangalone tadi.

4. Large Scale Ecosystem

Model ini menerapkan sistem end-to-end yang dipadukan dengan mekanisme, badan penyantun, lembaga riset, struktur bisnis dan disertai kolaborasi akademik. Suatu sistem yang rumit namun berhasil diterapkan di Finlandia. Universitas Aalto (Inovasi) akan diresmikan di negara ini.

Finlandia adalah New Top One negara paling bahagia. Rakyat sejahtera, kebutuhan terpenuhi, tuntutan rakyat kepada pemerintah dapat diakomodasi, dan rakyat hidup dengan baik dan bahagia.

Jepang walaupun kesejahteraan masyarakatnya baik, namun workaholicnya menjadikan masyarakat tidak dapat menikmati hidupnya. Sementara amerika serikat dengan sistem dan keamanan yang terkendali serta materi yang tercukupi tidak menjadi negara paling bahagia karena kenyamanan hanya dirasakan oleh sebagian warga saja. Bangsa Negro yang berkebangsaan Amerika Serikat masih merasa tidak aman.

Sabtu, 05 Juni 2010

Ozdogan Yilmaz

When, after a year of medical school, Oz Yilmaz changed his educational goals to pursue a career in geophysics, our profession gained a superbly productive scientist and teacher. As teacher, he wrote in 1987 the all-time SEG best seller, Seismic Data Processing, a profusely illustrated, comprehensive textbook on how to process reflection seismic data. Now in its fifth printing, the 538-page volume has been accepted worldwide in industry and academia as the definitive resource on the subject. In 1990 Oz
supplemented the book with an SEG-published, 24-hour set of video tapes that has enabled the world to benefit from the dynamism of his personality in a crystal-clear exposition of what, in other hands, could have been a dry-as-dust recitation of formulae and algorithms.
Both the book and the taped course were the culmination of many years of hands-on teaching and the accumulation of a series of examples illustrative of every step, option, and nuance of reflection seismic processing. That many oil companies and contractors contributed to his collection and gave their permission for publication, attests to the high esteem in which he and his work are universally held.
Oz, however, is that rare individual that combines teaching skill with the innovative and productive work of a talented scientist. His 1979 PhD thesis (published in 1980) Prestack partial migration was a major contribution to practical seismic processing. In his relentless pursuit of the goal of achieving practical inversion of seismic data that is of deciphering the configuration and nature of the rocks beneath our feet from geophysical data he has generated inventive solutions to problems not only in
migration but in multiple suppression, velocity analysis, and compensation for near-surface effects.
Most recently he has demonstrated his versatility through publications in reservoir analysis by innovatively applying work that he had done for a masters degree in rock physics 15 years earlier.
Oz Yilmaz, born in Kars, Turkey, just a few miles from Soviet Georgia, graduated from Haydarpasha Lyceum (high school) in Istanbul and shortly thereafter won a coveted sponsorship from the Turkish government to study geology/geophysics at the University
of Missouri-Rolla where in 1970 he earned a first-honors BS. After earning an MS in 1972 at Stanford University for his work in rock physics, he returned to his native land to join the Turkish Petroleum Company as processing geophysicist and research geophysicist. By the time he left, after five years, he had become chief geophysicist.
Returning to Stanford, Oz earned his PhD in the record time of one year. Courted by a number of oil companies and geophysical contractors, Oz Yilmaz selected the one among them that he felt offered him the greatest opportunity to make a significant contribution to his profession. At Western Geophysical he functioned as senior research geophysicist until he took a one-year leave of absence to rejoin the Turkish Petroleum Company where he became assistant manager of exploration. After returning to Western, he was transferred to London where he now resides with his dentist wife, Hulya, and his 12-year-old son Esen Lesgi. Today he is manager of research and development at Western's European headquarters.
In the excellent English that he acquired through diligent effort and polished at the English Language Institute in Long Island, New York, Oz has been quoted on his philosophy of science: "The thinking process is continuing for the scientist, you must be able to think a problem through even while you sleep. . ." To accomplish all that Oz Yilmaz has accomplished in his young life, his indefatigable diligence must surely have been guided by his consistent thinking.

Carl H. Savit and Ken Larner

Minggu, 09 Mei 2010

7 Tips for Creating a Great Business Proposal



Q: I was wondering if you had any tips on what constitutes a good proposal. Much of my business comes from making proposals, and I think they could probably be stronger, though I am not sure they are weak, if that makes sense. Thanks in advance.
— Kirk
A: In his excellent book, Writing Winning Business Proposals, author Richard C. Freed says this about business proposals:
Although a few are outstanding, most aren't. Many offend with 'cut-and-paste' boilerplate, miss important opportunities to provide value, suffer from poor logic and organization, and focus more on you than on me and my organization. Although some do a few things well, some don't do much well at all.
I think he is on to something. I read quite a few business proposals, and have written many. Most often, and most successfully, my proposals have been to publishers. Each time I have written a book, the process begins with a proposal that explains what the book would be, who its intended audience is, why it would be better than competitive books, and why the publisher would be nuts not to publish it.
Similarly, not a few business proposals come across my desk. Some are excellent and some are not. So here then are my 7 Tips for Creating a Great Business Proposal:
  1. Write Clearly and Succinctly: There is a tendency in business writing generally, and in business proposals specifically, to try and show how smart you are by using excess verbiage, jargon, and run-on sentences. Don't do it. Be succinct. Make your point and move on.

    Remember: When people begin reading the proposal, they have little or no idea what you are proposing, so you have to walk them through the process. You do so by starting at the beginning and clearly, simply, and logically moving forward by making your points one at a time.

    Start with the big picture and drill down as you go along.
  2. Make a Good Argument and Counter Possible Obstacles: A great proposal is, essentially, a sales brochure, disguised. In it, you put your best foot forward, put your company in the best light, and make yourself irresistible to the reader.

    How do you do that?

    The best way is to marshal the top facts and arguments in your favor. Have a theme and reinforce it again and again. Take the reader down a path that leads but to one conclusion — that hiring you makes the most sense for them.

    You also have to put yourself in the readers' position, think of what counter arguments they may be considering, and deal with those potential obstacles honestly. That makes you trustworthy.
  3. Show your Personality: Far too often, business proposals are devoid of life, as if the person writing it is some Employeetron 3000, programmed to say nothing, be boring, and not offend.

    I say, let your personality come through. Of course this is business and you have to follow some business conventions, but as you do, also let the reader see who you are. Share your enthusiasm for your business, their business, the idea, something.
  4. Use Graphics Intelligently: Don't make the mistake of bogging down a perfectly fine proposal with excess graphics. Yes, of course you need graphics; they can clarify an idea, and liven up a proposal and allow readers to focus on something other than words. That's smart. Just don't get carried away. Whether you use a program like Publisher or PowerPoint, just be sure that the graphics reinforce the sale rather than distracting from the point.
  5. Don't Oversell: Avoid hyperbole. As soon as you cross the line from understandable pride to obnoxious overstatement, you lose credibility. Once readers think you're not shooting straight with them, they may question the truthfulness of everything in your proposal—all that they read so far, and all that is still to come.

    You avoid this unenviable fate by staying on the safe side of overstatement.
  6. Avoid Boilerplate Language and Catch Typos: Another sure way to lose readers is to have them think that your proposal is a cut-and-paste job, consisting of boilerplate data and text. Certainly you can reuse persuasive information from elsewhere, but try to keep it to a minimum and don't make it obvious. Your proposal should read as if it were created especially for this particular client or customer. And while you're personalizing the proposal, triple-check for typos.

    If it is clear that you didn't give the proposal your best effort, why would your readers think you would give their project your best effort?
  7. Always Keep the Reader in Mind: A proposal is a marketing tool, and as such, remember Marketing 101: Stress benefits, benefits, benefits.

    Finally, while price is important and must be discussed, do so only after you have wowed readers with your crisp writing, powerful arguments, supporting graphics, and a plethora of potential benefits. Then you can go in for the sale.